Pementasan “Orang Asing” 2010

Dokumentasi Pementasan Teater Kebon Teboe

Artikel dibawah ini diambil dari newslettes Skana Yogyakarta

Oleh: Muhammad Qomaruddin

Yogyakarta, 13 Maret 2010

Kok mati lampu? Apa PLN mulai mengacau lagi, atau pada belum bayar listrik ya? Gelap dan dingin.

Ternyata gelap itu tidak ada kaitannya samasekali dengan PLN atau bayar-membayar tagihan listrik. Kegelapan di kampus IST AKPRIND itu merupakan bagian dari konsep pertunjukan Teater Kebon Teboe berjudul “Orang Asing”. Dari halaman nampak ramai orang dalam kegelapan di balkon lantai satu. Orang-orang itu sedang menunggu pertunjukan dimulai dalam remang cahaya lampu botol yang ditata sepanjang jalan menuju ruang pertunjukan. Masuk dalam gedung (semacam aula) ber-ac terlihat beberapa deret kursi di bagian belakang dan hamparan tikar di bagian depan. Dalam kegelapan, sang pembawa acara mulai memberikan pengantar sebelum pertunjukan dimulai.

Seorang pemuda muncul di panggung memperkenalkan dirinya. Dani namanya. Ia berkemeja rapi dan mengenakan celana jeans, layaknya seorang pengusaha muda kaya. Ia bercerita tentang bagaimana perjuangannya menuju sukses, juga bagaimana ia bisa tersesat di tengah hutan. Lampu meredup, si pemuda keluar, lampu menerangi sebuah gubuk. Di dalam gubuk ada sebuah ruang tamu dengan sebuah ranjang di belakangnya, dan kamar tidur yang bersebelahan dengan dapur. Penghuninya adalah sebuah keluarga: bapak, ibu, dan seorang anak gadis pincang bernama Sinah. Saat itu hanya Sinah dan ibunya yang ada di rumah ketika Dani datang ke gubuk itu. Ia mengaku sebagai pengusaha dari kota yang tersesat di dalam hutan dan berniat menginap. Sang Ibu yang mengetahui bahwa tamunya tersebut adalah seorang pengusaha kaya kemudian dengan senang hati mempersilahkan Dani menginap di rumahnya. Sang bapak yang muncul kemudian terheran karena ada seorang tamu yang membawa koper berisikan uang.

Pada tangan si pemuda melingkar sebuah jam berlapis emas yang kemudian diberikan Dani  pada sang bapak. Mereka sekeluarga takjub dengan tamunya yang kaya tersebut dan dengan ramah kemudian mempersilahkan Dani untuk tinggal di rumah mereka. Melihat uang yang ada dalam koper pemuda tersebut, keluarga itu kemudian menjadi gelap mata dan merencanakan untuk membunuh pemuda tersebut dengan niat menguasai seluruh uang yang ada dalam kopernya. Mereka berencana membunuh si pemuda saat sedang tidur. Sang Bapak dipilih sebagai eksekutor pembunuhan tersebut. Namun setelah beberapa kali mencoba, rupanya ia gagal melakukannya karena tak tega. Lalu ia memutuskan untuk keluar dan mencari tuak untuk memupuk keberaniannya. Sinah gemas melihat bapaknya yang begitu penakut dan mengusulkan kepada Ibunya agar ia diizinkan menjadi eksekutor menggantikan bapaknya.

Saat perbincangan itu datanglah Marni, tetangga mereka, membawa oleh-oleh. Ia memaksa masuk kedalam rumah. Melihat ada seorang pemuda yang sedang tertidur, ia menjadi semakin penasaran. Sementara Sinah dan Ibunya nampak berusaha keras menyembunyikan rencana mereka dengan membujuk agar Marni segera pulang, dan mereka berhasil. Terjadilah pembunuhan itu. Sinah yang tak sabar berhasil membunuh Dani. Tak lama kemudian muncul sang bapak yang mabuk dipapah oleh seorang lelaki tetangga mereka dan anak tukang warung penjual tuak. Mengetahui kedatangan mereka, Sinah dan Ibunya panik dan cemas, lalu membawa bapak ke kamar tidur. Tetangga mereka kemudian bercerita bahwa ia bertemu seorang pemuda tampan yang mengaku sebagai kakak dari Sinah, yang selama ini terpisah dan merantau di kota. Keluarga itu sontak terkejut dan menyesal karena ternyata pemuda yang mereka bunuh adalah keluarga mereka sendiri yang mereka anggap telah tiada.

Produksi Artistik

“Orang Asing” adalah drama saduran karya D. Djajakusuma dari novel karya Rupert Brook berjudul “Lithuania”. Kali ini cerita tersebut kembali disesuaikan oleh Bimo Wikan, yang juga adalah sutradara pertunjukan. Menurut Bimo Wikan, cerita ini mereka angkat karena berbicara tentang sebuah keluarga yang menjadi gelap mata karena harta. Seperti orang-orang jaman sekarang yang cenderung mementingkan uang secara berlebihan. Juga karena sebagian besar dari mereka kuliah di Jurusan Ekonomi yang setiap harinya mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan uang. Bimo menambahkan bahwa pemilihan bentuk realisme dalam pementasan tersebut adalah karena dengan bentuk tersebut ia merasa seluruh tim yang terlibat akan dapat belajar juga tentang realitas sehari-hari dari cerita dalam naskah tersebut.

Secara keseluruhan pertunjukan berjalan dengan lancar, dan penonton yang kira-kira berjumlah 170 orang tetap bertahan hingga pertunjukan usai. Akting para aktor sesekali membuat penonton tersenyum hingga tertawa terbahak. Dengan musik yang didominasi keyboard pertunjukan tersebut membawa penonton ke tempat yang berganti-ganti. Pencahayaan dengan warna oranye berusaha menghidupkan bangunan gubuk yang menjadi setting utama dari latar hutan dalam pertunjukan ini. Gubuk itu terbuat dari anyaman bambu sebagai dinding yang melintang di belakang dan kedua sisi di samping panggung. Sementara bagian depan tidak ada dinding  hanya ada jendela yang digantung memberi imaji bahwa ada dinding di jendela tersebut.

Pertunjukan kali ini adalah kali pertama teater Kebon Teboe tampil di luar kampus mereka (STIE YKPN). Tentu saja dengan budget yang lebih dari produksi mereka biasanya. Pimpinan produksi pertunjukan ini, Ulpa Silmit, mengaku agak sedikit kewalahan mencari sponsor. Sumber dana mereka dapat 70 persen dari donatur dan sisanya dari kampus. Dengan cara door to door, barter logo, menjual tiket dll, mereka berjuang mewujudkan pertunjukan ini. Mereka menjual tiket pertunjukan seharga dua ribu rupiah, dengan harapan publik mau menonton karya mereka.

Komentar penonton

Setelah pertunjukan selesai, diadakan diskusi terbuka bersama dengan seluruh awak pertunjukan. Diskusi berlangsung hangat hingga pukul sebelas malam. Saling sanggah dan debat sempat berlangsung, hingga akhirnya diskusi ditutup karena hari sudah malam.

Beberapa hal yang muncul dalam diskusi:

–         Perwujudan bentuk realisme dalam pertunjukan ini, menurut salah seorang penonton, kurang berhasil karena di awal pertunjukan dimunculkan monolog Dani, yang juga merubah persepsi penonton atas pertunjukan. Tokoh Dani adalah tokoh kunci yang harusnya disembunyikan dan menjadi teka-teki dalam naskah Orang Asing.

Pernyataan ini disanggah oleh penonton lain dengan mengungkapkan bahwa realisme juga bebas ditafsir oleh penggarap. Kenapa seolah realisme itu bentuk yang sangat sulit untuk dimainkan?

–         Perihal kampus teater vs teater kampus. Perdebatan tentang perbedaan standar pertunjukan antara kampus teater dengan teater kampus.

* Muhammad Qomaruddin, aktor, tengah menyelesaikan skripsi di jurusan Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

(terbit di skAnA volume 12, Mei-September 2010)

*****

Team Teater Kebon Teboe

Sutradara: Bimo Wikan Rohmadadi/ Asisten Sutradara: Muhammad Rinawan/ Penata Kostum: Dewi Larasati, Devina Pinot, Muhammad Faris/ Make Up: Putri Rahma, Dina Setyorini, Vira Denis/ Musik: Gama, Desi, Gendel, Andy/ Setting: Prima Nugraha, Riri Farida, Fahmi Fauzi/ Lighting: Sigit Putranto,  Santi Permata Putri, Vita Desi/ Aktor: Andhika Herlambang (Orang Asing/Dani), Rara Wulan Dewi (Sinah), Paskasius Eka Sulistyo (Bapak), Nindi Ariyani Saputri ‘teater Jemuran’ (Marni&Anak Tukang Warung), Muhammad Teguh Raharjo (Lelaki)/ Pimpinan Produksi: Ulpa Silmit/ Tim Produksi: Melinda Adelina, Santi Permata Putri, Wery Arya Diharjo, Kartika Susanti, Devina Pinot, Imam jazuli, Galih “Terkam 28” dkk.

This entry was posted in Pementasan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s